RSS
 

Posts Tagged ‘joko widodo’

PIDATO JOKOWI BELUM CERMINKAN KARAKTER PEMIMPIN

31 Aug

GAK TAHU ya, selagi mendengarkan pidato Presiden terpilih Joko Widodo malam ini di Muktamar PKB di Surabaya, masih sulit bagi saya untuk menerima beliau sebagai pemimpin saya. Agak beda dengan 2009 lalu, saat jagoan saya Pak JK ternyata kalah telak dengan SBY yang sangat perkasa dari segi popularitas dan elektabilitas, saya cenderung lebih bisa menerima kembalinya SBY ke tampuk kepresidenan. Yaa bolehlah, SBY gimana-gimana masih seorang yang cerdas, visioner, seorang pemimpin, komunikator, dan negarawan sejati.

Joko Widodo malam ini bercerita tentang konsep Revolusi Mental yang ia bawa selama masa kampanye kemarin. Tapi sebelum itu, harus saya katakan, cara beliau berpidato masih jauh dari kata ideal sebagai seorang pemimpin dan negarawan. Masih sekelas Ketua RT memberi sambutan di forum tetangga. Tidak ada gebrakan visi, motivasi untuk bangkit. Para pendukung beliau bilang, “Ia gak hebat dalam bicara, tapi hebat dalam kerja.” Yaa oke lah.. Tapi buat saya tetap salah satu SOFTSKILL yang HARUS dimiliki oleh seorang PEMIMPIN adalah kecakapan komunikasi.

Kembali ke Revolusi Mental, saya melihat beliau agak sulit menjelaskan dengan gamblang visi dan misi mulia yang beliau emban lewat istilah Revolusi Mental ini. Ketika saya berharap sesuatu yang benar-benar revolusioner, ternyata hanya sebatas, “Revolusi mental seperti apa? Ya perbaikan akhlak. Moralitas.”

1. Kalau hanya begitu, mengapa harus pakai istilah bombastis begitu segala? Mengapa tidak memakai konsep yang lebih umum yang saat ini masih berusaha diwujudkan oleh pemerintah sekarang, yakni Character Building? Itu saja sudah keren dan berat kok. Tidak perlu memakai istilah yang dulu sering disuarakan oleh kalangan elit komunis untuk menarik hati kaum marginal. Nanti kami jadi salah paham.

2. Bicara perbaikan akhlak, itu tidak mudah. Perubahan hanya akan efektif bila ada keteladanan. Tapi saya agak ragu, bagaimana beliau akan merubah akhlak bangsa manakala DUA KALI kita lihat bersama-sama tataran praktis akhlak pada diri istri beliau yang bongkar-pasang jilbab. Dan kecurigaan kita mengerucut pada sekadar untuk menarik hati calon pemilih Muslim: Pertama di Pilgub DKI, kedua di Pilpres kemarin. Metodenya sama: Saat kampanye berjilbab, selesai kampanye kembali ditanggalkan.

Jadi, mari kita sama-sama terus mengawasi konsep dan janji-janji yang ditawarkan oleh presiden baru kita ini, khususnya agar kami pemilih yang berada di sisi bersebrangan dengan beliau betul-betul dapat menerima beliau sebagai bapak kami, pemimpin kami, sang negarawan sejati, bukan hanya bagi rakyat PDIP atau PKB saja.

Terima kasih. 🙂

 
 

JOKOWI-AHOK UNTUK INDONESIA BARU

31 Aug

Ada yang cerita kepada saya tentang kinerja presiden baru kita semasa menjabat sebagai Gubernur DKI selama 1 tahun kemarin (sebenarnya 1,5 tahun, tapi terpangkas oleh cuti-cuti kampanye dan pencitraan). Katanya:

1. Pertumbuhan ekonomi DKI menurun, dari sebelumnya 6,77% menjadi 6,11%.

2. Banyak anggaran APBD yang tidak terserap, hanya kurang dari 70%, menjadikan DKI terendah tingkat penyerapan anggarannya di antara daerah-daerah lain di Indonesia

3. Tingkat korupsi naik hingga 800%

4. Bertambahnya jumlah warga miskin dari 330 ribu jiwa menjadi 377 ribu jiwa

5. Kacaunya sistem jaminan kesehatan. Pada masa gubernur sebelumnya, sesuai Perda DKI, tiap rakyat miskin berhak mendapatkan jaminan kesehatan hingga maksimal Rp 100 Juta. Berkat Kartu Jakarta Sehat, jatah warga miskin hanya tinggal maksimal Rp 6 Juta, plus berkurangnya jatah obat-obatan.

6. Adanya potensi penyimpangan dana anggaran pengadaan TransJ sebesar Rp 54 Miliar menurut laporan BPKP yang disampaikan oleh pihak Kejagung RI.

Bila pak presiden kita ini selalu mendengung-dengungkan ‘manajemen pengawasan’ dalam pengelolaan negaranya kelak, maka sepertinya patut kita bantu lebih KERAS untuk mengawasi kinerja negara yang jauh lebih luas dan lebih kompleks dari wilayah DKI.

Setelah resmi jadi presiden, kursi Gubernur DKI pun otomatis diduduki oleh Ahok. Bagaimana Ahok? Sebagian orang menilai ia tegas dan berani. Monggo dinilai bersama pernyataan-pernyataan yang diungkapkan beliau di media berikut ini:

1. Konstitusi harus lebih dipatuhi ketimbang Quran

2. Muhammadiyah munafik menolak pelacuran

3. Gak perlu jilbab

4. Mau Jakarta Bersih? Usir warga miskin dari Jakarta

5. Mau Jakarta Tertib? Bakar setengah kota Jakarta

6. FPI Bubarkan saja. Tukang Bikin Keributan.

7. Siswa bandel, saya tembak

8. PNS Jakarta malas dan bodoh

9. Kami sdh putuskan Susan, warga harus terima. Mendagri suruh belajar konstitusi lagi.

10. Gak jamannya lagi harus ikuti aspirasi. Kalau gak ada Betawi emangnya kenapa?

11. Ga mau dukung KJS, Direktur RSUD saya pecat

#TaukAhGelap

 
 

(II) CATATAN KRITIS DEBAT CAPRES

14 Jun
Jokowi JK
Di tulisan ini saya ambil posisi sebagai pendukung Prabowo-Hatta. Jadi, teman2 pendukung Jkw monggo ancang2 berkomen, tapi dengan cara yang baik, atau sekalian saja buat tandingan tulisan seperti ini. Jangan lupa tag saya ya. Hehe.

Debat kemarin memunculkan beberapa catatan kritis dari saya kepada Pak Jkw dan Pak JK. Kalau Anda tebak ini masalah kertas mecungul dari saku jas, Anda salah. Gak perlu dibahas lagi karena tidak substansial. Yang lebih substansial ada di poin2 berikut ini:

> Tentang apa yang akan diperbuat Jkw-JK dengan rencana jangka panjang yang ada sekarang. Mohon saya dibantu pemahaman kata2 Jkw bahwa ia akan mengikuti dan meneruskan rencana jangka panjang demi kesinambungan pembangunan (which is good) sembari memasukkan prinsip-prinsip dan ideologi ke dalamnya (which is confusing). Kalau sesuatu yang prinsip itu masuk ke dalam rencana jangka panjang yang sudah ada sebelumnya, bukankah itu akan merubah wajahnya? Berbeda kalau hanya memberi modifikasi dari yangs udah ada sehingga menjadi lebih baik. memasukkan unsur2 prinsipil dan ideologis akan merubah wajah keseluruhan rencana itu.

> Program aparatur pemerintahan yang bersih dari Jkw-JK bagus. Open recruitment, lelang jabatan, dst itu bagus. Seperti yang diterapkan di DKI sekarang. Tapi mohon dijelaskan mengapa tingkat korupsi di DKI malah melonjak 800% dari sebelumnya? Oke, mungkin proses membangun sistem ini masih perlu penyempurnaan. Tapi itu artinya mohon bapak menyelesaikan hingga tuntas masa jabatan. Masih ada waktu 3 tahun. Hehe.

> Penekanan pada ‘Manajemen Pengawasan’ justru menjadi blunder bagi Jkw. Faktanya, kasus dugaan korupsi TransJ adalah karena lemahnya pengawasan dari atasan. Belum lagi fakta bahwa rekanan yang ditunjuk itu, Michael Bima, adalah timses Jkw saat di Solo dulu. Bagaimana mungkin Jkw tidak ingat dengan kenalan akrabnya itu? Rp 1,5 Triliun. Jumlah uang yang dipertaruhkan di kasus ini.

> Politik anggaran, menurut sebagian pakar, adalah blunder lain Jkw. Setelah lepas dari era politik anggaran di era orde baru, kini Jkw akan mengangkat isu itu lagi sebagai strategi menguatkan hubungan pusat dan daerah. Yang akan terjadi adalah rakyat menderita karena bila kepala daerah tidak sepaham dengan pusat, anggaran pembangunan akan ditahan, dan pembangunan pun terhambat. Mengapa Jkw tidak mengusulkan cara damai dengan ngajak makan para kepalada daerah seperti yang selalu digembar-gemborkan dalam menuntaskan masalah pasar, sehingga tercipta hubungan yang harmonis tanpa ancam2an yang terkesan otoriter?

> Yang menurut saya kontradiktif dari ide demokrasi ala Jkw yakni turun ke bawah dan mendengar aspirasi rakyat secara langsung adalah sikapnya yang tidak menghiraukan aspirasi mayoritas rakyatnya di DKI yang dipimpin oleh Lurah Susan. Bukankah suara rakyat harus didengar, baru mencari solusi terbaik untuk itu? Syukur2 kalo bisa meyakinkan rakyat tentang keputusan itu. Tapi jangan pernah mengabaikan, sesuai dengan keyakinan makna demokrasi menurut Jkw sendiri.

> Dan blunder terbesar pasangan Jkw-JK adalah melontarkan isu basi soal pelanggaran HAM di saat pasangan Prabowo-Hatta melempar pertanyaan yang berkaitan dengan visi nasional kekininan sebagaimana aturan debat, yakni soal pemekaran wilayah. Pak JK telah melakukan black campaign terang2an di depan ratusan juta rakyat Indonesia. Sangat tidak etis dan elegan bagi seorang politisi kawakan macam pak JK.

> Biar bagaimana, visi-misi yang disampaikan Jkw-JK tetap berfokus untuk rakyat. Mari kita syukuri pula itu.

#SelamatkanIndonesia