RSS
 

Negeri Ini Sudah Rusak?

18 Aug

“Negeri ini sudah rusak!”

Begitu kata-kata yang saya baca di sebuah grup percakapan malam kemarin. Pertanyaannya sederhana saja: Betulkah negeri kita sudah rusak?

Jika saya disodori pertanyaan ini beberapa waktu yang lalu, mungkin dengan cukup yakin saya akan jawab, “Ya! Sudah rusak!” Betapa tidak, saya membaca data dan fakta yang mencengangkan betapa kelakuan segelintir orang yang bisa dengan santai mempermainkan hukum betul-betul merusak tatanan kehidupan yang terbangun.

Terakhir, saya mengikuti kesaksian Yulianis, mantan bawahan M. Nazaruddin sang terpidana kasus korupsi Hambalang, yang bertutur di hadapan Prof. Mahfud MD dengan menunjukkan segepok bukti-bukti dan kesaksian tak terbantahkan bawah Nazar ternyata selama ini bisa jalan-jalan di tengah padang bulan, bahkan bubuk nyenyak di rumahnya. Ajaib, mengingat saat ini ia sedang menjalani masa hukuman panjangnya di penjara. Rusak!

Belum lagi jika berbicara suksesi kekuasaan dan kapasitas kepemimpinan pemimpin periode saat ini. Dengan berbagai fakta pergulatan kepentingan di balik kursi kekuasaan, arah filosofis pembangunan yang tidak ada bekasnya hingga hari ini, hingga kinerja pemimpin yang, menurut sebagian pengamat, malah menurunkan tingkat harapan publik, bolehlah dari diri pribadi saya menyatakan ketidakpercayaan saya kepada kemampuan pemimpin menakhodai negeri tempat kelahiran saya ini. Ibarat pemain Manchester United yang kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya saat itu, David Moyes, hingga ia harus dilengserkan dan diganti oleh Louis van Gaal, seperti itulah penilaian dan perasaan saya saat ini kepada pemimpin. Rusak!

Meski demikian, saya tersadar bahwa tak semuanya bisa dikatakan rusak. Saya melihat tetangga saya yang tetap menyapa saya dengan murah senyum ketika hendak berangkat ke kantor, tidak rusak. Saya melihat para guru dan dosen yang tiada letih mengajarkan ilmu kebaikan untuk masa depan anak didiknya, tidak rusak. Saya melihat perkembangan jumlah penghafal Al-Quran cilik maupun remaja yang semakin meningkat di Indonesia, tidak rusak. Saya melihat rentetan prestasi dan kiprah nasional maupun internasional yang diraih oleh mahasiswa di tempat saya bekerja, tidak rusak. Dan terakhir, saya merasakan nikmat kesempatan beribadah tanpa gangguan dan ancaman sebagaimana di daerah atau negeri lain yang sedang terjajah, tidak rusak. Serusak-rusaknya kondisi, masih ada yang tidak rusak. Itu intinya.

Saya sepakat dengan Pak Muhaimin Iqbal, pendiri Gerai Dinar, yang menggunakan istilah “Negeri Setengah Syariah” untuk menyebut Indonesia kekinian. Ya, artinya, negeri ini memang belum syariah. Tapi sedang menuju syariah. Dan bukan sebaliknya. Saya kok yakinnya begitu. Dengan melihat berbagai cuplikan perkembangan tadi, apakah Anda berpikiran sama?

Saya akan terus mengamati dan memberikan kritik kepada pemimpin yang tidak kunjung menunjukkan kapasitas kepemimpinannya. Tapi rasa-rasanya itu bukan alasan untuk lantas melabeli negeri ini rusak sepenuhnya.

Masih ada harapan. Selalu ada harapan.

Generasi mahasiswa baru akan datang sebentar lagi. Kepada merekalah akan saya titipkan ilmu dan wawasan agar kelak mereka menjadi pemimpin yang berkapasitas pemimpin yang hakiki. Kepemimpinan level 5 ala Rasulullah, meminjam teori kepemimpinan “Prophetic Leadership” ala Ary Ginanjar Agustian. Pemimpin yang merdeka dari penghambaan kepada manusia dan harta. Pemimpin yang menggigit kuat nilai2 Tauhid dengan gigi gerahamnya. Pemimpin yang membawa bumi ini jauh dari nilai “Rusak”.

ALA

 
 

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*