RSS
 

Hanya Allah yang Bisa Menyelamatkan Bangsa Ini

20 Aug

Di sela-sela rapat penyusunan Rencana Strategis FIA UB 2016-2020 kemarin, Dekan sempat menyinggung tentang rentetan krisis ekonomi dan sosial yang terjadi belakangan ini serta bagaimana kuatnya peran media-media besar dalam usaha mereka ‘menutupi dengan halus’ peristiwa-peristiwa itu.

Kami semua mengamini apa yang disampaikan Dekan, bahwa mayoritas media besar sekarang sudah terlalu abai dengan keadaan masyarakat yang sesungguhnya di lapangan. Meskipun tidak berbicara detil, profesor di bidang administrasi publik ini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka yang seolah hanya diam melihat penderitaan rakyat di mana-mana akibat harga-harga meroket (ke atas) dan pengurangan jumlah pekerja. Dibahas pun dalam acara-acara mereka, kecuali hanya sedikit dan sebatas meraih simpati rakyat yang sudah setengah tenggelam di tengah lautan kebobrokan administrasi pemerintahan di era sekarang.

Memang, kalau ditilik sejak era transisi kekuasaan kemarin, sudah nampak jelas bagaimana media-media berupaya memenangkan satu pasangan kandidat dan menjatuhkan pasangan lainnya. Dengan kekuatan jaringan global yang mereka miliki, sangat mudah bagi mereka untuk melambungkan nama kandidat yang secara prestasi masih minim, tapi disanjung-sanjung karena gayanya yang dianggap mirip dengan rakyat kebanyakan. Berbagai ramalan yang melambungkan harapan rakyat pun terpublikasi sedemikian luasnya. Tapi ternyata yang terjadi malah kebalikannya. Entahlah apa ini bisa diperbaiki atau tidak.

Begitu kuatnya media, hingga Dekan menceritakan kepada kami kisah beberapa orang kawannya yang dicalonkan sebagai menteri. Menurut cerita langsung dari kawan-kawan beliau, sebelum betul-betul menjabat di ring 1 kekuasaan, mereka diharuskan untuk tampil sesering mungkin dengan media. Ketika media sering menayangkan wawancara dengan mereka, dan rakyat merespon cukup baik (menurut ukuran media), maka baru diresmikanlah jabatan itu bagi mereka. Sebut saja, Teten Masduki. Sebelum resmi menjadi Tim Komunikasi Presiden, ia diharuskan untuk berdekat-dekat dengan media terlebih dahulu. Begitu ungkap Dekan kepada kami. Artinya, memilih pejabat pun tidak cukup dengan restu Allah atau orangtua, tetapi sekarang juga perlu restu media.

Yang berabe adalah jika medianya benar-benar lurus, tidak ada beban hutang ke pengusaha-pengusaha asing yang punya kepentingan di negeri kita. Bagaimana jika media-media itu sepenuhnya berbasis pada investasi dan kepentingan taipan-taipan global, seperti yang terjadi saat ini?

Perbincangan tentang itu pun ditutup tanpa kesimpulan. Kami semua hanya terhenyak terdiam merasakan situasi negeri saat ini. Pak Dekan pun hanya bisa berujar lirih, “Hanya Gusti Allah yang bisa menyelamatkan bangsa ini.”

ALA

 
 

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*