RSS
 

Archive for August, 2015

Hanya Allah yang Bisa Menyelamatkan Bangsa Ini

20 Aug

Di sela-sela rapat penyusunan Rencana Strategis FIA UB 2016-2020 kemarin, Dekan sempat menyinggung tentang rentetan krisis ekonomi dan sosial yang terjadi belakangan ini serta bagaimana kuatnya peran media-media besar dalam usaha mereka ‘menutupi dengan halus’ peristiwa-peristiwa itu.

Kami semua mengamini apa yang disampaikan Dekan, bahwa mayoritas media besar sekarang sudah terlalu abai dengan keadaan masyarakat yang sesungguhnya di lapangan. Meskipun tidak berbicara detil, profesor di bidang administrasi publik ini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka yang seolah hanya diam melihat penderitaan rakyat di mana-mana akibat harga-harga meroket (ke atas) dan pengurangan jumlah pekerja. Dibahas pun dalam acara-acara mereka, kecuali hanya sedikit dan sebatas meraih simpati rakyat yang sudah setengah tenggelam di tengah lautan kebobrokan administrasi pemerintahan di era sekarang.

Memang, kalau ditilik sejak era transisi kekuasaan kemarin, sudah nampak jelas bagaimana media-media berupaya memenangkan satu pasangan kandidat dan menjatuhkan pasangan lainnya. Dengan kekuatan jaringan global yang mereka miliki, sangat mudah bagi mereka untuk melambungkan nama kandidat yang secara prestasi masih minim, tapi disanjung-sanjung karena gayanya yang dianggap mirip dengan rakyat kebanyakan. Berbagai ramalan yang melambungkan harapan rakyat pun terpublikasi sedemikian luasnya. Tapi ternyata yang terjadi malah kebalikannya. Entahlah apa ini bisa diperbaiki atau tidak.

Begitu kuatnya media, hingga Dekan menceritakan kepada kami kisah beberapa orang kawannya yang dicalonkan sebagai menteri. Menurut cerita langsung dari kawan-kawan beliau, sebelum betul-betul menjabat di ring 1 kekuasaan, mereka diharuskan untuk tampil sesering mungkin dengan media. Ketika media sering menayangkan wawancara dengan mereka, dan rakyat merespon cukup baik (menurut ukuran media), maka baru diresmikanlah jabatan itu bagi mereka. Sebut saja, Teten Masduki. Sebelum resmi menjadi Tim Komunikasi Presiden, ia diharuskan untuk berdekat-dekat dengan media terlebih dahulu. Begitu ungkap Dekan kepada kami. Artinya, memilih pejabat pun tidak cukup dengan restu Allah atau orangtua, tetapi sekarang juga perlu restu media.

Yang berabe adalah jika medianya benar-benar lurus, tidak ada beban hutang ke pengusaha-pengusaha asing yang punya kepentingan di negeri kita. Bagaimana jika media-media itu sepenuhnya berbasis pada investasi dan kepentingan taipan-taipan global, seperti yang terjadi saat ini?

Perbincangan tentang itu pun ditutup tanpa kesimpulan. Kami semua hanya terhenyak terdiam merasakan situasi negeri saat ini. Pak Dekan pun hanya bisa berujar lirih, “Hanya Gusti Allah yang bisa menyelamatkan bangsa ini.”

ALA

 
 

Negeri Ini Sudah Rusak?

18 Aug

“Negeri ini sudah rusak!”

Begitu kata-kata yang saya baca di sebuah grup percakapan malam kemarin. Pertanyaannya sederhana saja: Betulkah negeri kita sudah rusak?

Jika saya disodori pertanyaan ini beberapa waktu yang lalu, mungkin dengan cukup yakin saya akan jawab, “Ya! Sudah rusak!” Betapa tidak, saya membaca data dan fakta yang mencengangkan betapa kelakuan segelintir orang yang bisa dengan santai mempermainkan hukum betul-betul merusak tatanan kehidupan yang terbangun.

Terakhir, saya mengikuti kesaksian Yulianis, mantan bawahan M. Nazaruddin sang terpidana kasus korupsi Hambalang, yang bertutur di hadapan Prof. Mahfud MD dengan menunjukkan segepok bukti-bukti dan kesaksian tak terbantahkan bawah Nazar ternyata selama ini bisa jalan-jalan di tengah padang bulan, bahkan bubuk nyenyak di rumahnya. Ajaib, mengingat saat ini ia sedang menjalani masa hukuman panjangnya di penjara. Rusak!

Belum lagi jika berbicara suksesi kekuasaan dan kapasitas kepemimpinan pemimpin periode saat ini. Dengan berbagai fakta pergulatan kepentingan di balik kursi kekuasaan, arah filosofis pembangunan yang tidak ada bekasnya hingga hari ini, hingga kinerja pemimpin yang, menurut sebagian pengamat, malah menurunkan tingkat harapan publik, bolehlah dari diri pribadi saya menyatakan ketidakpercayaan saya kepada kemampuan pemimpin menakhodai negeri tempat kelahiran saya ini. Ibarat pemain Manchester United yang kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya saat itu, David Moyes, hingga ia harus dilengserkan dan diganti oleh Louis van Gaal, seperti itulah penilaian dan perasaan saya saat ini kepada pemimpin. Rusak!

Meski demikian, saya tersadar bahwa tak semuanya bisa dikatakan rusak. Saya melihat tetangga saya yang tetap menyapa saya dengan murah senyum ketika hendak berangkat ke kantor, tidak rusak. Saya melihat para guru dan dosen yang tiada letih mengajarkan ilmu kebaikan untuk masa depan anak didiknya, tidak rusak. Saya melihat perkembangan jumlah penghafal Al-Quran cilik maupun remaja yang semakin meningkat di Indonesia, tidak rusak. Saya melihat rentetan prestasi dan kiprah nasional maupun internasional yang diraih oleh mahasiswa di tempat saya bekerja, tidak rusak. Dan terakhir, saya merasakan nikmat kesempatan beribadah tanpa gangguan dan ancaman sebagaimana di daerah atau negeri lain yang sedang terjajah, tidak rusak. Serusak-rusaknya kondisi, masih ada yang tidak rusak. Itu intinya.

Saya sepakat dengan Pak Muhaimin Iqbal, pendiri Gerai Dinar, yang menggunakan istilah “Negeri Setengah Syariah” untuk menyebut Indonesia kekinian. Ya, artinya, negeri ini memang belum syariah. Tapi sedang menuju syariah. Dan bukan sebaliknya. Saya kok yakinnya begitu. Dengan melihat berbagai cuplikan perkembangan tadi, apakah Anda berpikiran sama?

Saya akan terus mengamati dan memberikan kritik kepada pemimpin yang tidak kunjung menunjukkan kapasitas kepemimpinannya. Tapi rasa-rasanya itu bukan alasan untuk lantas melabeli negeri ini rusak sepenuhnya.

Masih ada harapan. Selalu ada harapan.

Generasi mahasiswa baru akan datang sebentar lagi. Kepada merekalah akan saya titipkan ilmu dan wawasan agar kelak mereka menjadi pemimpin yang berkapasitas pemimpin yang hakiki. Kepemimpinan level 5 ala Rasulullah, meminjam teori kepemimpinan “Prophetic Leadership” ala Ary Ginanjar Agustian. Pemimpin yang merdeka dari penghambaan kepada manusia dan harta. Pemimpin yang menggigit kuat nilai2 Tauhid dengan gigi gerahamnya. Pemimpin yang membawa bumi ini jauh dari nilai “Rusak”.

ALA