RSS
 

Kitab Maulid dan Buku Sejarah

13 Jan

Tulisan ini saya adopsi dari artikel karya Syarif H. Santoso, seorang mantan santri kalong sejumlah pesantren di Jember, yang dimuat di Jawa Pos edisi tanggal 12 Januari 2014. Saya berharap dengan membaca ini, teman-teman, khususnya generasi muda muslim, tidak terlalu mudah membid’ahkan saudaranya yang lain dan agar mengingatkan kekurangan saudaranya dengan cara yang lembut.

 

Dalam maulid, jamak dibacakan Sirah Nabawiyah, riwayat hidup Nabi Muhammad berdasar kitab-kitab tarikh, tafsir, dan hadis. Kitab-kitab maulid tersebut, antara lain, Maulid Diba’, Barzanji, Simthud Duror, Dhiyaul Lami’.

 

Para ulama menulis biografi Nabi dalam sastra tingkat tinggi yang jarang dikuasai umum. Tingkat balaghah-nya demikian artistik dan bercita-cita kosmopolit, jauh dari kebudayaan lisan kaum badui. Kitab-kitab maulid dapat diartikan sebagai buku sejarah yang ditulis dalam perspektif sastrawi.

 

Kitab maulid bukan cuma monopoli ulama sufi atau tradisional. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, pelopor modernisme Islam, juga mengarang kitab maulid berjudul Zikra Al Maulid Al Nabawi.

 

Karena ketinggian sastranya, kitab maulid sering dituding sebagai kitab syirik, bidah, dan takhayul oleh kelompok puritan. Padahal, setiap bait dalam maulid sebenarnya disandarkan pada hadis Nabi dan fakta dalam kitab tarikh (sejarah).

 

Contohnya, bait anta syamsun badrun, anta nurun fauqa nuri ketika mahallul qiyam sering dituding syirik karena seakan mendudukkan Nabi di atas Tuhan. Padahal, bait tersebut sebenarnya adalah ungkapan sastra tingkat tinggi terhadap hadis Nabi yang menceritakan keutamaan Nabi Muhammad terhadap Nabi lain. Karena itu, untuk memahami kitab maulid, selain harus memahami hadis dan sejarah, seseorang wajib memelajari ilmu logika dan sastra Arab.

 

Ironisnya, di negeri ini kitab maulid tidak dihargai sebagai buku sejarah. Kitab maulid justru dianggap sebatas karya berdimensi spiritual, beraura mistik serta media ekstase dalam tasawuf.

 

Bahkan, ada yang hanya menjadikan itu sebagai mantra dalam berbagai kepentingan seperti pengabul hajat. Contohnya, Kitab Burdah karya Imam Bushiri yang digunakan sebagai bacaan penyembuh berbagai penyakit.

 

Unsur sastra, kajian hadis, dan tipologi sejarahnya hilang sama sekali. Wajar, jika kaum puritan menuding kitab maulid sebagai kitab bidah Sebab, tiada lain karena kaum muslim jarang ditransformasi aspek keilmuan ilmiah dalam kitab maulid seperti analisa sejarah, muatan hadis, dan kajian bahasanya. Padahal, kitab maulid ditulis berdasar data dari kitab-kitab sejarah seperti Sirah Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan Al Thabari.

 

Sirah Nabawiyah dalam kitab maulid sejujurnya merupakan satu provokasi kebudayaan agar kaum muslim rajin menulis sejarah. Di negeri ini, sejarah telah lama ditulis dalam berbagai bentuk sejak babad, serat, hikayat, sampai buku-buku sejarah modern.

 

Kalangan santri sebenarnya memiliki daya gugah unggul untuk menulis sejarah. Selain karena terbiasa membaca kitab maulid, kalangan santri diwajibkan memelajari ilmu hadis yang banyak berlogikakan sejarah.

 

Para ulama kita dulu juga banyak yang menulis sejarah. Contohnya, Nurudin Al Raniri yang menulis Bustanus Salatin, sebuah kitab sejarah dunia yang mengulas sejarah di Yunani, Persia, Arab, India, dan Melayu.

 

Ada juga para pujangga di tanah Jawa yang menulis Babad dan Serat. Baik yang berkisar di sekitar kehidupan Nabi dan wali seperti Serat Anbiya, Babad Muhammad, dan serat Wali Sana. Sampai sejarah politik seperti Babad Banten, Babad Cirebon, Babad Demak, Babad Tanah Jawi, dan lainnya.

 

Namun, ada perbedaan dengan Sirah Nabawiyah. Jika Sirah Nabawiyah dalam maulid adalah sejarah yang ditulis dalam bentuk sastra, babad justru sebaliknya. Babad, hikayat, dan serat merupakan sastra yang menyertai sejarah. Dalam parameter R.G. Collingwood, babad tidak bisa disebut sejarah murni karena tidak memenuhi syarat saintifik, humanis, rasional, dan self-revelatory.

 

Momentum maulid seharusnya menciptakan tugas kesejarahan baru. Yaitu, menciptakan karya-karya sejarah yang layak dipertanggungjawabkan dan mengabarkannya kepada dunia.

 
 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*