RSS
 

Berkunjung ke Danny Darussalam Tax Center

27 Jan

Minggu yang lalu saya mendapat tugas untuk mendampingi mahasiswa S1 Perpajakan, Jurusan Administrasi Bisnis, FIA UB, melakukan studi ekskursi ke Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta. Sebuah perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan, mengingat kami juga sempat merasakan macet di daerah Indramayu karena jalur pantura ditutup akibat banjir. Macet itu berlangsung sejak subuh hingga maghrib, sehingga kami semua, khususnya teman-teman cowok, harus berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan utama para peserta di tengah hutan, persawahan, dan perumahan penduduk pinggiran: makan dan buang hajat.

Tapi, terlepas dari semua tantangan itu, mungkin yang paling menarik, yang paling memberi pencerahan bagi kita semua, adalah kunjungan kami ke Danny Darussalam Tax Center di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

 

Menurut Company Profile yang dipertontonkan kepada kami, lembaga ini bukan sekadar lembaga konsultan pajak biasa, melainkan juga pusat penelitian segala isu tentang perpajakan.

 

Pendirinya, Darussalam dan Danny Septriadi (yang dulunya berstatus dosen dan mahasiswa), adalah dua orang yang sebelumnya bisa dibilang mapan di dunia perpajakan. Bersama, mereka membangun visi dan misi untuk meluruskan berbagai problem masalah perpajakan yang ada di Indonesia dengan berbekal tekad mereka untuk belajar.

 

Walhasil, dengan meninggalkan segala kemapanan yang mereka dapatkan sebelumnya, hingga menjual rumah untuk modal mengikuti kuliah di luar negeri dan memborong buku-buku, sekarang Danny Darussalam Tax Center menjadi rujukan utama masalah perpajakan di negeri ini. Bahkan, Dirjen Pajak sendiri tak sungkan untuk memohon nasihat mereka.

 

Setidaknya ada satu hal yang bisa saya pelajari dari lembaga ini dan pendirinya.

 

Yakni, lembaga yang semula hanya berisi empat orang staf ini, dan sekarang bisa membawahi puluhan staf, termasuk ahli-ahli perpajakan penerus pendirinya, sangat mengandalkan filosofi yang banyak dilupakan oleh orang Indonesia yang ingin sukses: MEMBACA BUKU.

 

Di awal pendiriannya, menurut penuturan beliau berdua, mereka menghabiskan waktu untuk memborong buku dan melahap semua bacaan itu, khususnya berkaitan dengan studi komparasi sistem dan masalah perpajakan yang ada di seluruh dunia. Sehingga dengan itu, mereka bisa melihat berbagai masalah perpajakan di Indonesia dari perspektif yang lebih luas. Bahkan, sebenarnya, sebagian besar sengketa pajak di Indonesia sudah bisa diselesaikan secara tepat dan adil di negara lain. Hanya, karena hakim-hakim pengadilan pajak di Indonesia belum menjangkau ilmu-ilmu itu, akhirnya banyak terjadi ketidakadilan dalam eksekusi putusannya. Inilah yang disayangkan oleh Darussalam dan Danny.

 

Hingga mereka bisa dijadikan rujukan utama untuk masalah perpajakan di Indonesia, plus memiliki sebuah kantor representatif yang nyaman, tapi, dan berkelas (foto menyusul), semua ternyata diawali dengan membaca. Itulah kunci kesuksesan yang ditekankan oleh beliau berdua kepada kami semua.

 

Jadi, mudah-mudahan dengan kunjungan ini, bertatap muka langsung dengan Darussalam dan Danny, mahasiswa S1 Perpajakan dan juga saya sendiri, kami jadi lebih bersemangat untuk berinvestasi waktu dan uang dengan membaca buku. “Karena buku adalah jendela dunia,” begitu kata orang-orang bijak.

 
 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*